Cari Blog Ini

Rabu, 22 Januari 2014

Anak Gemar Membaca Cenderung Lebih Jago Matematika

Anak-anak yang suka membaca cenderung lebih jago dalam pelajaran Matematika dan Bahasa Inggris. Demikian hasil penelitian dari Institut Pendidikan Universitas London, Inggris.

Peneliti meneliti kebiasaan membaca lebih 6.000 anak. Peneliti mengungkap kesenangan itu berhubungan dengan perkembangan anak ketimbang aspek pendidikan dari orangtua.
Peneliti menganalisis hasil tes terhadap siswa berusia 16 tahun. Seluruh relawan lahir dalam satu minggu sesuai data lembaga survei The 1970 British Cohort Study.
Temuan itu menunjukkan anak-anak yang sering membaca di usia 10 tahun lebih mampu menguasai kosakata. Keuntungan itu juga didapat anak-anak yang terbiasa membaca buku atau surat kabar lebih dari seminggu.
Hasil penelitian menyebutkan pula 14,4 persen anak-anak yang gemar membaca mampu menguasai Matematika. Sementara 9,9 persen lebih gampang memahami kosakata.
Peneliti menyimpulkan penguasaan kosakata dari kegemaran itu membantu anak-anak menyerap banyak informasi pada kurikulum sekolah. Kesimpulan itu juga berdasarkan pada latar belakang pendidikan orantua.
Dampak kemajuan pada anak-anak yang sering membaca – yaitu membaca koran pada usia 16 dan rajin mengunjungi perpustakaan – empat kali lebih besar daripada keuntungan memiliki orangtua yang berpendidikan universitas.
Penanggungjawab penelitian Dr Alice Sullivan mengatakan, “Ini mungkin tampak mengejutkan bahwa membaca untuk kesenangan akan membantu meningkatkan nilai matematika anak-anak”.
Tapi, Sullivan menambahkan, ada kemungkinan bahwa kemampuan membaca yang kuat akan memungkinkan anak-anak mampu menyerap dan memahami informasi baru dan memengaruhi pencapaian mereka dalam semua mata pelajaran.

Membaca Bermanfaat untuk Kesehatan

Menurut para peneliti, novel yang baik benar-benar bisa mengubah hidup Anda. Sebuah penelitian menemukan bahwa membaca sebuah cerita yang kuat bisa mengubah cara otak Anda bekerja dan hasilnya mungkin permanen. Para peneliti berkata bahwa walaupun sebuah novel memiliki kemampuan untuk memindahkan para pembaca ke dalam dunia yang dimiliki dalam cerita itu, mereka juga menemukan bahwa efeknya bisa terjadi secara fisik juga.
Buku favorit kita, klaim mereka bisa menciptakan memori otot yang berarti bahwa kita mungkin meniru tindakan-tindakan atau pilihan hidup dari karakter yang ada di novel.
Para peneliti di Emory University di Atlanta, Georgia, Amerika Serikat (AS) meminta 21 siswa untuk membaca novel Pompeii hasil karya penulis populer Robert Harris selama 19 hari berturut-turut sementara otak mereka dimonitor, tulis Daily Mail. Bagian-bagian otak yang paling dipengaruhi adalah bagian yang mengontrol corteks sementara yang mempengaruhi kemampuan memahami bahasa.
Dan bagian otak lain yang terpengaruh adalah bagian otak yang terhubung ke pikiran dan aksi. Hasil penelitian ini diterbitkan di jurnal Brain Connectivity dan menunjukkan bahwa fungsi-fungsi otak ini tetap tinggal dengan para obyek penelitian selama paling tidak lima hari setelah mereka selesai membaca. Para peneliti mengatakan bahwa efek ini bisa berlangsung lebih lama.
Dunia sastra selalu penuh dengan buku-buku yang diklaim orang sebagai bacaan yang mengubah hidup. Ilmuwan syaraf Gregory Berns berkata: “Cerita-cerita membentuk hidup kita dan dalam beberapa kasus bisa menolong membentuk seseorang. Kita ingin mengerti bagaimana sebuah cerita masuk ke dalam otak dan apa yang mereka lakukan di otak.”
Sebuah cerita yang kuat memiliki kemampuan untuk menciptakan memori otot di dalam otak, tambah para peneliti.
“Perubahan syaraf yang kita temukan berhubungan dengan sensasi fisik dan sistem gerakan yang mengindikasikan bahwa sebuah novel bisa memindahkan kita ke tubuh sang protagonis. Kita sudah tahu bahwa cerita yang bagus bisa membuat seseorang merasakan apa yang dialami oleh seorang tokoh dalam cerita. Sekarang kita melihat bahwa hal ini juga terjadi secara biologis. Pertanyaannya adalah berapa lama efeknya di dalam otak kita,” tambah Berns.
Sumber: timlo.net

Kelebihan buku cetak dibanding e-book

Di zaman modern seperti sekarang, kehadiran e-book sangat membantu bagi mereka yang suka mobile. Tapi bukan berarti buku cetak mulai dilupakan. Justru buku cetak memberi banyak kelebihan dibanding e-book. Berikut alasan buku lebih baik dari e-book dilansir boldsky (1/8).
Bisa disentuh dan dirasakan
Sebuah buku bukan hanya obyek, tapi hampir seperti makhluk hidup. Ketika Anda memilih sebuah buku dari toko, Anda menyentuhnya, memeriksa covernya dan membaca sinopsis di belakang. Anda pada dasarnya berinteraksi dengan buku. Dalam media elektronik, Anda tidak bisa melakukan interaksi lebih.
Tidak melukai mata
Menatap layar monitor terus menerus sambil membaca bisa menjadi sangat melelahkan bagi mata Anda. Membaca buku membuat mata lebih rileks asal Anda tidak membacanya di tempat gelap.
Bisa dijadikan hiasan
Anda bisa menjadikan buku sebagai hiasan rumah, dengan menyusunnya sekreatif mungkin. Sementara e-book hanya bisa dilihat tanpa bisa disentuh sehingga hanya bisa dibaca saja.
E-book tidak ditandatangani
Anda bisa memberi catatan kecil atau tanda tangan pada buku kesayangan Anda. Sementara Anda tidak bisa memperlakukan hal yang sama pad e-book.
Bagaimana, buku cetak ternyata tidak kalah dengan e-book bukan?
Sumber: merdeka.com

Selasa, 21 Januari 2014

Perpusnas Salurkan 25 Unit MPK

23 Desember 2013, (Senin)

Salemba, Jakarta—Program bantuan mobil perpustakaan keliling (MPK) milik Perpustakaan Nasional (Perpusnas) untuk dihibahkan kepada perpustakaan provinsi, kabupaten/kota merupakan salah satu prioritas pembangunan nasional . Program MPK sejak tahun 2003 telah mengalami pembaruan dari segi fisik mobil maupun kapal perpustakaan keliling. Hingga tahun 2012, Perpusnas telah menggelontorkan 465 unit MPK di hampir semua perpustakaan umum yang dikelola pemerintah daerah (pemda).

Di tahun 2013, Perpusnas kembali mengucurkan 25 unit MPK dengan kapasitas 900 eksemplar buku siap layan kepada perpustakaan daerah yang terpilih sebagai wujud pengembangan perpustakaan di masyarakat, sehingga total jenderal sampai tahun 2013 sudah mencapai 490 unit.

Perpusnas mengutamakan penyaluran diberikan kepada wilayah-wilayah yang masih terbatas dalam mengakses keilmuan/pengetahuan dan jauh dari pusat kota. Seperti tahun-tahun sebelumnya, daerah yang berhak mendapat stimulan MPK haruslah memiliki kriteria tertentu, antara lain telah melaksanakan amanat UU No. 43/2007 tentang Perpustakaan dan PP No. 38 yang menyatakan bahwa perpustakaan telah menjadi urusan wajib bersama pemerintah pusat/daerah, pemda yang dibantu MPK sudah memiliki kelembagaan perpustakaan, memiliki cakupan wilayah luas, dan belum pernah mendapat stimulan serupa sebelumnya, serta sanggup memberikan pos layanan perpustakaan (minimal) 20 titik per bulannya.

“Meski demikian, Perpusnas masih mencatat sejumlah ketidaksesuaian di lapangan, seperti masalah suku cadang, hingga beralih fungsinya MPK untuk kepentingan yang lain (kaukistik),” ujar Kepala Pusat Pengembangan Minat Baca Perpusnas Muh. Syarif Bando, saat penyerahan kunci MPK kepada pemda terpilih, Salemba, (20/12). Di samping masalah klasik yang masih terjadi, yakni minimnya apresiasi pemda terhadap keberadaan perpustakaan sebagai sarana pendidikan sepanjang hayat.

Namun, Perpusnas juga menyanjung keberhasilan yang dialami Kabupaten/Kota yang telah berhasil meyakinkan pemdanya untuk memiliki Gedung Perpustakaan yang layak dan represetatif.
Di banyak tempat, budaya baca belum mendarah daging dalam keseharian. Walau kuantitas buku terus ditambah, tapi masyarakat belum tergerak memanfaatkan dengan maksimal. “Perlu sosialisasi dan promosi massif,” pesan Kepala Perpusnas Sri Sularsih. Kepala Perpusnas mengharapkan adanya MPK dan kapal perpustakaan, sebagai cara yang pro aktif masyarakat mau membaca.

Stimulan yang diberikan Perpusnas memang hanya satu unit, tapi kepedulian dan kepiawaian pemda melobi lewat pos APBD itu yang diperlukan. Jika terbukti, bukan tidak mungkin unit MPK bisa ditambah beberapa kali lipat. Tentunya dampak manfaat yang dirasakan masyarakat jauh lebih terasa dengan jumlah armada yang lebih banyak.

Berikut daerah-daerah penerima MPK tahun 2013 :
1. Lhokseumawe
2. Kab. Bener Meriah
3. Kab. Banyuasin
4. UPT Proklamator Bung Hatta
5. Kab. Pringsewu
6. Kab. Sukabumi
7. Kab. Kebumen
8. Kab. Wonogiri
9. Kab. Bondowoso
10. Kab. Sukamara
11. Kab. Sintang
12. Kab. Timur Tengah Selatan
13. Pemprov Sulawesi Utara
14. Kota Bitung
15. Kab. Sangihe
16. Kab. Minahasa Tenggara
17. Kab. Daerah Parigi Moutong
18. Kab. Majene
19. Kab. Bone
20. Kab. Enrekang
21. Kab. Halmahera Tengah
22. Kab. Lanny Jaya
23. Kab. Sarni



Sumber: hartoyo d